Minggu, 05 Oktober 2014

KASUS TRANSCULTURE IN NURSING



KASUS
Klien nama Ny. A berumur 30 tahun, Agama Islam, Tingkat pendidikan akhir SMP, pekerjaan petani, suku Sumatera di rawat di ruang bersalin RSUD kerinci.
Ketika proses persalinan klien tampak cemas dan berdo’a sambil memegang tangan suaminya, beberapa jam kemudian bayi lahir langsung diadzani oleh ayahnya. Selama klien dirawat keluarga sering mengunjunginya, serta bergantian dalam menjaga klien  karena di ruang bersalin di batasi jumlah pengunjungnya. Hubungan kekerabatan lebih dominan adalah pihak laki-laki, pola pengambilan keputusan di pihak laki-laki. Ada tabungan yang sudah di persiapkan oleh keluarga untuk persalinan ini.
Pasca persalinan perawat menganjurkan kepada Ny. A agar meberikan Asi pertama kepada anaknya karena ( pada Saat itu, payudara memproduksi kolostrum. Kolostrum adalah ASI khusus berwarna kekuningan, agak kental yang  mengandung protein dua kali lipat dibandingkan ASI, yang kaya akan antibodi dan sel darah putih yang melindungi bayi terhadap infeksi dan alergi. Kolostrum juga mengandung pencahar yang berfungsi untuk membersihkan mekonium, mengandung faktor-faktor pertumbuhan dan kaya vitamin A ).
Akan tetapi sebelum Asi keluar Ny.A diberitahu mertuanya untuk memberikan  nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh Ny. A lebih dahulu) kepada bayinya dengan alasan agar bayi tumbuh sehat dan kuat, dan memberikan bubur tepung serta pisang dengan pemahaman bahwa jika memberikan ASI saja tanpa makanan tambahan lain seperti pisang dan bubur akan membuat bayi lapar, sebab ASI saja tidak dapat mengeyangkan dan dianggap sebagai minuman saja  Budaya itu turun temurun di percayai oleh Ny. A dan keluarganya . Keluarga Ny. A percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu si bayi merupakan yang terbaik untuk bayi.
Sebagai seorang perawat yang perlu kita lakukan adalah memberikan pemahaman kepada keluarga klien dan Ny. A bahwa pentingnya memberikan ASI ekslusif terutama Asi yang baru pertama keluar dari payudara karena Asi pertama memproduksi kolesterum dan mengandung protein dua kali lipat Asi, serta antibody dan sel darah putih yang melindungi bayi terhadap infeksi dan alergi. Di bandingkan dengan memberikan nasi pakpak, bubur tepung serta pisang karena itu membahayakan bagi bayi karena system pencernaannya belum berfungsi secara sempurna.

APLIKASI LEININGER
1.      Faktor Teknologi
Dari kasus di atas, factor teknologinya yaitu Ny. A dianjurkan untuk meberikan Asi pertama kepada anaknya karena ( pada Saat itu, payudara memproduksi kolostrum. Kolostrum adalah ASI khusus berwarna kekuningan, agak kental yang  mengandung protein dua kali lipat dibandingkan ASI, yang kaya akan antibodi dan sel darah putih yang melindungi bayi terhadap infeksi dan alergi. Kolostrum juga mengandung pencahar yang berfungsi untuk membersihkan mekonium, mengandung faktor-faktor pertumbuhan dan kaya vitamin A)
2.      Faktor social dan ketertarikan keluarga
Dari kasus di atas, klien yang bernama Ny. A, berumur 30 tahun, tipe keluarganya hubungan kekerabatan yang lebih dominan pihak laki-laki, hubungan Ny. A dengan kepala keluarga adalah suami istri, pola pengambilan keputusan di pihak laki-laki. Ny. A mendapat informasi tentang makanan tambahan untuk bayi dari ibu mertua.
3.      Factor agama dan falsafah hidup
Adapun agama yang dianut Ny. A adalah Islam, status pernikahannya resmi, Ketika persalinan Ny. A tampak berdo’a sambil memegang tangan suaminya, setelah bayi lahir langsung diadzani oleh ayahnya
4.      Factor nilai-nilai budaya dan gaya hidup
Tidak ada pantangan dalam memberikan asi.
5.      Factor kebijakan dan peraturan yang berlaku
Selama klien dirawat keluarga sering mengunjunginya, serta bergantian dalam menjaga klien  karena di ruang bersalin di batasi jumlah pengunjungnya.
6.      Factor ekonomi
Pekerjaan Ny A adalah petani, serta ada tabungan yang sudah dipersiapkan oleh keluarga untuk persalinan ini.Karna ada tabungan yang telah di persiapkan oleh keluarga sehingga Ny A sudah agak lega dan senang untuk persiapan kelahirannya.
7.      Factor pendidikan
Tingkat pendidikan Ny A adalah SMP.Dan karna tingkat SMP itu di negara kita di bawah rata-rata pendidikan yang seharusnya jadi pandangan Ny W terhadap kesehatan pun tidak sama dengan orang yang berpendidikan tinggi sehingga dia cenderung mengikuti anjuran mertuanya daripada petugas kesehatan 

Sumber :

Senin, 29 September 2014

Tugas Kasus Transcultural In Nursing




Budaya adalah “metakomunikasi sistem” dimana tidak hanya kata yang diucapkan yang memberi makna, tetapi segala sesuatu yang lain juga (Matsumoto & Matsumoto,1989)
Budaya adalah pikiran, komunikasi, tindakan, keyakinan, nilai, dan lembaga-lembaga ras dan etnik, agama atau kelompok sosial (OMH,2001). Budaya adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari kehidupan individu dan kelompoknya.
Tidak semua budaya berdampak positif (budaya positif), ada pula yang berdampak negatif (budaya negatif). Contoh Budaya di kabupaten kerinci  yang turun temurun di percayai oleh masyarakatnya adalah ketika ibu yang baru bersalin (sebelum ASI keluar) langsung memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya lebih dahulu) kepada bayinya dengan alasan agar bayi tumbuh sehat dan kuat. Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi. Ibu kadang memberikan bubur tepung, bubur nasi, pisang, dan madu pada usia bayi kurang dari sebulan. Ibu  memahami  jika memberikan ASI saja tanpa makanan tambahan lain seperti pisang dan bubur akan membuat bayi lapar, sebab ASI saja tidak dapat mengeyangkan dan dianggap sebagai minuman saja,
 Dalam konsep kesehatan moderen ataupun medis Pemberian ASI dianjurkan selama 2 (dua) tahun dan pemberian makanan tambahan berupa makanan padat sebaiknya dimulai sesudah bayi berumur 4 tahun. WHO melarang pemberian madu kepada bayi dibawah 1 tahun karena terdapat kandungan Clostridium botulinum, spora yang membahayakan dan mematikan.
Pemberian MP-ASI terlalu dini seperti nasi dan pisang justru akan menyebabkan penyumbatan saluran cerna karena Hat dan tidak bisa dicerna atau yang disebut phyto bezoar sehingga dapat menyebabkan kematian dan menimbulkan risiko jangka panjang seperti obesitas, hipertensi, atherosklerosis, dan alergi makanan (Afifah, 2007)
Sebagai pelaku kesehatan (perawat), yang perlu dilakukan adalah melakukan promosi kesehatan dengan cara penyuluhan mengenai dampak buruknya budaya negatif yang berkembang sehingga masyarakat memiliki sikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan ilmiah dan selektif terhadap budaya-budaya yang ada serta lebih mengembangkan pengetahuan mengenai kesehatan.
 
Sumber : 
repository.unhas.ac.id 
http://ariskamei.blogspot.com/2013/06/kasus-dalam-keperawatan.html

Senin, 22 September 2014

PERKEMBANGAN SPRITUAL BERDASARKAN TINGKAT USIA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Perawat yang bekerja di garis terdepan harus mampu memenuhi semua kebutuhan manusia termasuk juga kebutuhan spiritual klien. Berbagai cara dilakukan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien mulai dari pemenuhan makna dan tujuan spiritual sampai dengan memfasilitasi klien untuk mengekspresikan agama dan keyakinannya. Pemenuhan aspek spiritual pada klien tidak terlepas dari pandangan terhadap lima dimensi manusia yang harus dintegrasikan dalam kehidupan. Lima dimensi tersebut yaitu dimensi fisik, emosional, intelektual, sosial, dan spiritual. Dimensi-dimensi tersebut berada dalam suatu sistem yang saling berinterksi, interrelasi, dan interdepensi, sehingga adanya gangguan pada suatu dimensi dapat mengganggu dimensi lainnya (Carson, 2002)
Perawat harus mengetahui tahap perkembangan spiritual dari manusia, sehingga perawat dapat memberikan asuhan keperawatan dengan tepat dalam rangka memenuhi kebutuhan spiritual klien. Tahap perkembangan klien dimulai dari lahir sampai klien meninggal dunia. Perkembangan spiritual manusia dapat dilihat dari tahap perkembangan mulai dari bayi, anak-anak, pra sekolah, usia sekolah, remaja, desawa muda, dewasa pertengahan, dewasa akhir, dan lanjut usia. Secara umum tanpa memandang aspek tumbuh-kembang manusia proses perkembangan aspek spiritual dilhat dari kemampuan kognitifnya dimulai dari pengenalan, internalisasi, peniruan, aplikasi dan dilanjutkan dengan instropeksi. Namun, berikut akan dibahas pula perkembangan aspek spiritual berdasarkan tumbuh-kembang manusia (Carson, 2002)
Dimensi spiritual menjadi bagian yang komprehensif dalam kehidupan manusia. Karena setiap individu pasti memiliki aspek spiritual, walaupun dengan tingkat pengalaman dan pengamalan yang berbeda-beda berdasarkan nilai dan keyaninan mereka yang mereka percaya. Setiap fase dari tahap perkembangan individu menunjukkan perbedaan tingkat atau pengalaman spiritual yang berbeda (Hamid, 2000)

BAB II
ISI

2.1    Aspek perkembangan Spritual pada Individu Menurut Tingkat Usia
Perkembangan spiritual pada anak sangatlah penting untuk diperhatikan. Manusia sebagai klien dalam keperawatan anak adalah individu yang berusia antara 0-18 bulan, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, yang mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa. Anak adalah individu yang masih bergantung pada orang dewasa dan lingkungan, artinya membutuhkan lingkungan yang dapat memfasilitasi dalam memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri (Larson, 2009).
Tahap awal perkembangan manusia dimulai dari masa perkembangan bayi. Hamid (2000) menjelaskan bahwa perkembangan spiritual bayi merupakan dasar untuk perkembangan spiritual selanjutnya. Bayi memang belum memiliki moral untuk mengenal arti spiritual. Keluarga yang spiritualnya baik merupakan sumber dari terbentuknya perkembangan spiritual yang baik pada bayi. Oleh karena itu, perawat dapat menjalin kerjasama dengan orang tua bayi tersebut untuk membantu pembentukan nilai-nilai spiritual pada bayi.
Dimensi spiritual mulai menunjukkan perkembangan pada masa kanak-kanak awal (18 bulan-3 tahun). Anak sudah mengalami peningkatan kemampuan kognitif. Anak dapat belajar membandingkan hal yang baik dan buruk untuk melanjuti peran kemandirian yang lebih besar. Tahap perkembangan ini memperlihatkan bahwa anak-anak mulai berlatih untuk berpendapat dan menghormati acara-acara ritual dimana mereka merasa tinggal dengan aman. Observasi kehidupan spiritual anak dapat dimulai dari kebiasaan yang sederhana seperti cara berdoa sebelum tidur dan berdoa sebelum makan, atau cara anak memberi salam dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan lebih merasa senang jika menerima pengalaman-pengalaman baru, termasuk pengalaman spiritual (Hamid, 2000).
Perkembangan spiritual pada anak masa pra sekolah (3-6 tahun) berhubungan erat dengan kondisi psikologis dominannya yaitu super ego. Anak usia pra sekolah mulai memahami kebutuhan sosial, norma, dan harapan, serta berusaha menyesuaikan dengan norma keluarga. Anak tidak hanya membandingkan sesuatu benar atau salah, tetapi membandingkan norma yang dimiliki keluarganya dengan norma keluarga lain. Kebutuhan anak pada masa pra sekolah adalah mengetahui filosofi yang mendasar tentang isu-isu spiritual. Kebutuhan spiritual ini harus diperhatikan karena anak sudah mulai berfikiran konkrit. Mereka kadang sulit menerima penjelasan mengenai Tuhan yang abstrak, bahkan mereka masih kesulitan membedakan Tuhan dan orang tuanya (Hamid, 2000).
Usia sekolah merupakan masa yang paling banyak mengalami peningkatan kualitas kognitif pada anak. Anak usia sekolah (6-12 tahun) berfikir secara konkrit, tetapi mereka sudah dapat menggunakan konsep abstrak untuk memahami gambaran dan makna spriritual dan agama mereka. Minat anak sudah mulai ditunjukan dalam sebuah ide, dan anak dapat diajak berdiskusi dan menjelaskan apakah keyakinan. Orang tua dapat mengevaluasi pemikiran sang anak terhadap dimensi spiritual mereka (Hamid, 2000).
Remaja (12-18 tahun). Pada tahap ini individu sudah mengerti akan arti dan tujuan hidup, Menggunakan pengetahuan misalnya untuk mengambil keputusan saat ini dan yang akan datang. Kepercayaan berkembang dengan mencoba dalam hidup. Remaja menguji nilai dan kepercayaan orang tua mereka dan dapat menolak atau menerimanya. Secara alami, mereka dapat bingung ketika menemukan perilaku dan role model yang tidak konsisten. Pada tahap ini kepercayaan pada kelompok paling tinggi perannya daripada keluarga. Tetapi keyakinan yang diambil dari orang lain biasanya lebih mirip dengan keluarga, walaupun mereka protes dan memberontak saat remaja. Bagi orang tua ini merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik orang tua dan remaja (Hamid, 2000).
Dewasa muda (18-25 tahun). Pada tahap ini individu menjalani proses perkembangannya dengan melanjutkan pencarian identitas spiritual, memikirkan untuk memilih nilai dan kepercayaan mereka yang dipelajari saaat kanak-kanak dan berusaha melaksanakan sistem kepercayaan mereka sendiri. Spiritual bukan merupakan perhatian utama pada usia ini, mereka lebih banyak memudahkan hidup walaupun mereka tidak memungkiri bahwa mereka sudah dewasa (Hamid, 2000).
Dewasa pertengahan (25-38 tahun). Dewasa pertenghan merupakan tahap perkembangan spiritual yang sudah benar-benar mengetahui konsep yang benar dan yang salah, mereka menggunakan keyakinan moral, agama dan etik sebagai dasar dari sistem nilai. Mereka sudah merencanakan kehidupan, mengevaluasi apa yang sudah dikerjakan terhadap kepercayaan dan nilai spiritual (Hamid, 2000)
Dewasa akhir (38-65 tahun). Periode perkembangan spiritual pada tahap ini digunakan untuk instropeksi dan mengkaji kembali dimensi spiritual, kemampuan intraspeksi ini sama baik dengan dimensi yang lain dari diri individu tersebut. Biasanya kebanyakan pada tahap ini kebutuhan ritual spiritual meningkat (Hamid, 2000).
Lanjut usia (65 tahun sampai kematian). Pada tahap perkembangan ini, pada masa ini walaupun membayangkan kematian mereka banyak menggeluti spiritual sebagai isu yang menarik, karena mereka melihat agama sebagai faktor yang mempengaruhi kebahagian dan rasa berguna bagi orang lain. Riset membuktikan orang yang agamanya baik, mempunyai kemungkinan melanjutkan kehidupan lebih baik. Bagi lansia yang agamanya tidak baik menunjukkan tujuan hidup yang kurang, rasa tidak berharga, tidak dicintai, ketidakbebasan dan rasa takut mati. Sedangkan pada lansia yang spiritualnya baik ia tidak takut mati dan dapat lebih mampu untuk menerima kehidupan. Jika merasa cemas terhadap kematian disebabkan cemas pada proses bukan pada kematian itu sendiri (Hamid, 2000)

Sumber : Noorfaizah

Sabtu, 30 Maret 2013

ASKEP KONTRAKTUR




BAB I
PENDAHULUAN

A.    KONSEP DASAR UMUM
1.      Definisi
Kontraktur merupakan suatu keadaan patologis tingkat akhir dari suatu kontraksi. Umumnya kontraktur terjadi apabila pembentukan sikatrik berlebihan dari proses penyembuhan luka.
Kontraktur adalah hilangnya atau kurang penuhnya lingkup gerak sendi secara pasif maupun aktif karena keterbatasan sendi, fibrosis jaringan penyokong, otot dan kulit.
Kontraktur didefinisikan sebagai pemendekan otot secara adaptif dari otot/jaringan lunak yang melewati sendi sehingga menghasilkan keterbatasan lingkup gerak sendi.

2.      Etiologi
Penyebab utama kontraktur adalah tidak ada atau kurangnya mobilisasi sendi akibat suatu keadaan antara lain imbalance kekuatan otot, penyakit neuromuskular, penyakit degenerasi, luka bakar, luka trauma yang luas, inflamasi, penyakit kongenital, ankilosis dan nyeri.
Banyaknya kasus penderita yang mengalami kontraktur dikarenakan kurangnya disiplin penderita sendiri untuk sedini mungkin melakukan mobilisasi dan kurangnya pengetahuan tenaga medis untuk memberikan terapi pencegahan, seperti perawatan luka, pencegahan infeksi, proper positioning dan mencegah immobilisasi yang lama. Efek kontraktur menyebabkan terjadinya gangguan fungsional, gangguan mobilisasi dan gangguan aktifitas kehidupan sehari-hari.

3.      Klasifikasi
Berdasarkan lokasi dari jaringan yang menyebabkan ketegangan, maka kontraktur dapat diklasifikasikan menjadi :
a.      Kontraktur Dermatogen atau Dermogen
Kontraktur yang disebabkan karena proses terjadinya di kulit, hal tersebut dapat terjadi karena kehilangan jaringan kulit yang luas misalnya pada luka bakar yang dalam dan luas, loss of skin/tissue dalam kecelakaan dan infeksi.
b.      Kontraktur Tendogen atau Myogen
Kontraktur yang tejadi karena pemendekan otot dan tendon-tendon. Dapat terjadi oleh keadaan iskemia yang lama, terjadi jaringan ikat dan atropi, misalnya pada penyakit neuromuskular, luka bakar yang luas, trauma, penyakit degenerasi dan inflamasi.
c.       Kontraktur Arthrogen
Kontraktur yang terjadi karena proses di dalam sendi-sendi, proses ini bahkan dapat sampai terjadi ankylosis. Kontraktur tersebut sebagai akibat immobilisasi yang lama dan terus menerus, sehingga terjadi gangguan pemendekan kapsul dan ligamen sendi, misalnya pada bursitis, tendinitis, penyakit kongenital dan nyeri.
4.      Manifestasi Klinik
Gejala kontraktur bisa berupa :
a.       Terdapat jaringan ikat dan atropi
b.      Terjadi pembentukan sikatrik yang berlebih
c.       Mengalami gangguan mobilisasi
d.      Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari

5.      Patofisiologi
Apabila jaringan ikat dan otot dipertahankan dalam posisi memendek dalam jangka waktu yang lama, serabut-serabut otot dan jaringan ikat akan menyesuaikan memendek dan menyebabkan kontraktur sendi. Otot yang dipertahankan memendek dalam 5-7 hari akan mengakibatkan pemendekan perut otot yang menyebabkan kontraksi jaringan kolagen dan pengurangan jaringan sarkomer otot. Bila posisi ini berlanjut sampai 3 minggu atau lebih, jaringan ikat sekitar sendi dan otot akan menebal dan menyebabkan kontraktur.

6.      Komplikasi
a.       Dupuytren dimana kondisi jari-jari tetap fleksi dan tidak dapat sepenuhnya diekstensikan
b.      Kelumpuhan / kecacatan permanen

7.      Terapi dan Pengobatan
Hal utama yang dipertimbangkan untuk terapi kontraktur adalah pengembalian fungsi dengan cara menganjurkan penggunaan anggota badan untuk ambulasi dan aktifitas lain. Menyingkirkan kebiasaan yang tidak baik dalam hal ambulasi, posisi dan penggunaan program pemeliharaan kekuatan dan ketahanan, diperlukan agar pemeliharaan tercapai dan untuk mencegah kontraktur sendi yang rekuren. Penanganan kontraktur dapat dliakukan secara konservatif dan operatif :
a.      Konservatif
Seperti halnya pada pencegahan kontraktur, tindakan konservatif ini lebih mengoptimalkan penanganan fisioterapi terhadap penderita, meliputi :
1.      Proper positioning
Positioning penderita yang tepat dapat mencegah terjadinya kontraktur dan keadaan ini harus dipertahankan sepanjang waktu selama penderita dirawat di tempat tidur. Posisi yang nyaman merupakan posisi kontraktur. Program positioning antikontraktur adalah penting dan dapat mengurangi udem, pemeliharaan fungsi dan mencegah kontraktur.
Proper positioning pada penderita luka bakar adalah sebagai berikut :
Ø Leher : ekstensi / hiperekstensi
Ø Bahu : abduksi, rolasi eksterna
Ø Antebrakii : supinasi
Ø Trunkus : alignment yang lurus
Ø Lutut : lurus, jarak antara lutut kanan dan kiri 20 derajat
Ø Sendi panggul tidak ada fleksi dan rolasi eksterna
Ø Pergelangan kaki : dorsofleksi

2.      Exercise
Tujuan exercise untuk mengurangi udem, memelihara lingkup gerak sendi dan mencegah kontraktur. Exercise yang teratur dan terus-menerus pada seluruh persendian baik yang terkena luka bakar maupun yang tidak terkena, merupakan tindakan untuk mencegah kontraktur.
Adapun macam-macam exercise adalah :
Ø  Free active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri.
Ø  Isometric exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri dengan kontraksi otot tanpa gerakan sendi.
Ø  Active assisted exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita sendiri tetapi mendapat bantuan tenaga medis atau alat mekanik atau anggota gerak penderita yang sehat
Ø  Resisted active exercise : latihan yang dilakukan oleh penderita dengan mela­wan tahanan yang diberikan oleh tenaga medis atau alat mekanik.
Ø  Passive exercise : latihan yang dilakukan oleh tenaga medis terhadap penderita.

3.      Tretching
Kontraktur ringan dilakukan strectching 20-30 menit, sedangkan kontraktur berat dilakukan stretching selama 30 menit atau lebih dikombinasi dengan proper positioning. Berdiri adalah stretching yang paling baik, berdiri tegak efektif untuk stretching panggul depan dan lutut bagian belakang.

4.      Splinting/bracing
Mengingat lingkup gerak sendi exercise dan positioning merupakan hal yang penting untuk diperhatikan pada luka bakar, untuk mempertahankan posisi yang baik selama penderita tidur atau melawan kontraksi jaringan terutama penderita yang mengalami kesakitan dan kebingungan.

5.      Pemanasan
Pada kontraktur otot dan sendi akibat scar yang disebabkan oleh luka bakar, ultrasound adalah pemanasan yang paling baik, pemberiannya selama 10 menit per lapangan. Ultrasound merupakan modalitas pilihan untuk semua sendi yang tertutup jaringan lunak, baik sendi kecil maupun sendi besar.

b.      Operatif
Tindakan operatif adalah pilihan terakhir apabila pcncegahan kontraktur dan terapi konservatif tidak memberikan hasil yang diharapkan, tindakan tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara :

1.      Z – plasty atau S – plasty
Indikasi operasi ini apabila kontraktur bersama dengan adanya sayap dan dengan kulit sekitar yang lunak. Kadang sayap sangat panjang sehingga memerlukan beberapa Z-plasty.

2.      Skin graft
Indikasi skin graft apabila didapat jaringan parut yang sangat lebar. Kontraktur dilepaskan dengan insisi transversal pada seluruh lapisan parut, selanjutnya dilakukan eksisi jaringan parut secukupnya. Sebaiknya dipilih split thickness graft untuk l potongan, karena full thickness graft sulit. Jahitan harus berhati-­hati pada ujung luka dan akhirnya graft dijahitkan ke ujung-ujung luka yang lain, kemudian dilakukan balut tekan. Balut diganti pada hari ke 10 dan dilanjutkan dengan latihan aktif pada minggu ketiga post operasi.

3.      Flap
Pada kasus dengan kontraktur yang luas dimana jaringan parutnya terdiri dari jaringan fibrous yang luas, diperlukan eksisi parsial dari parut dan mengeluarkan / mengekspos pembuluh darah dan saraf tanpa ditutupi dengan jaringan lemak, kemudian dilakukan transplantasi flap untuk menutupi defek tadi. Indikasi lain pemakaian flap adalah apabila gagal dengan pemakaian cara graft bebas untuk koreksi kontraktur sebelumnya. Flap dapat dirotasikan dari jaringan yang dekat ke defek dalam 1 kali kerja.

B.     KONSEP KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.      Pengkajian Dasar Data Klien
Ø  Aktivitas/Istirahat
Gejala : Badan lemah, penurunan kekuatan, tahanan Keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit
Ø  Sirkulasi
Tanda : Hipotensi (syok), takikardi
Ø  Integritas Ego
Gejala : Adanya faktor stress, perasaan tak berdaya/tak ada harapan
Tanda : Menyangkal, ansietas, ketakutan, dan mudah tersinggung
Ø  Eliminasi
Tanda    :  Penurunan bising usus/tidak ada, Haluan urine menurun/tidak ada
Ø  Makanan/Cairan
Tanda    :  Anoreksia, mual/muntah
Ø  Keamanan
Tanda    :  Cedera kimia : tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab
Ø  Interaksi Sosial
Gejala    :  Penyuluhan atau pembelajaran
Ø  Perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/ perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran

2.      Tujuan
a.       Memberikan kenyamanan pada pasien
b.      Mencapai penyembuhan tepat waktu.
c.       Mengurangi / menghilangkan rasa cemas pasien. Kecemasan pasien berkurang
d.      Memberi Pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan penyakit

3.      Diagnosa keperawatan
a.       Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan/tahanan.
b.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit.
c.       Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
d.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang proses/penyembuhan penyakit

4.      Intervensi dan Rasional
a.      Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan/tahanan.
Tujuan:
Menunjukkan perilaku mampu melakukan aktivitas.

Intervensi :
1.      Lakukan latihan rentang gerak secara konsisten, diawali dengan pasif kemudian aktif.
Rasional : mencegah secara progresif mengencangkan jaringan parut, kontraktur, meningkatkan pemeliharaan fungsi otot dan sendi dan menurunkan kehilangan kalsium dan tulang.
2.      Instruksikan dan bantu dalam mobilitas, contoh tongkat, walker secara tepat.
Rasional : meningkatkan keamanan ambulasi.
3.      Dorong dukungan dan bantuan keluarga/orang terdekat pada latihan rentang gerak.
Rasional : memampukan keluarga/orang terdekat untuk aktif dalam perawatan pasien dan memberikan terapi lebih konstan/konsisten.
4.      Masukkan aktivitas sehari-hari dalam terapi fisik, hidroterapi, dan asuhan keperawatan.
Rasional : komunikasi aktivitas yang menghasilkan perbaikan hasil dengan meningkatkan efek masing-masing.
5.      Dorong partisipasi pasien dalam semua aktivitas sesuai kemampuan individual.
Rasional : meningkatkan kemandirian, meningkatkan harga diri, dan membantu proses perbaikan.

b.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit.
Tujuan :
Menunjukkan penyembuhan tepat waktu

Intervensi :
1.      Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi.
Rasional : area meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif.
2.      Evaluasi proses penyembuhan. Kaji ulang harapan terhadap penyembuhan dengan pasien.
Rasional : penyembuhan mulai dengan segera, tetapi penyembuhan lengkap memerlukan waktu.
3.      Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering, perlu untuk mempertahankan aktivitas.
Rasional : meningkatkan sirkulasi dan perfusi kulit dengan mencegah tekanan lama pada jaringan.
4.      Dorong mandi tiap 2 hari sekali.
Rasional : sering mandi membuat kekeringan kulit
c.       Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : 
Berkurangnya ansietas ketingkat yang bisa diatasi.

Intervensi :
1.      Dorong pasien untuk mengungkapkan kecemasannya, jangan menyangkal.
Rasional : menurunkan kecemasan. Penyangkalan dapat memperburuk mekanisme koping.
2.      Evaluasi mekanisme koping/pertahanan yang digunakan untuk berhadapan dengan perasaan ataupun ancaman yang sesungguhnya.
Rasional : mungkin dapat menghadapi situasi dengan baik pada waktu itu, misalnya penolakan dan regresi mungkin dapat mekanisme koping untuk waktu tertentu.
3.      Anjurkan untuk melakukan pendekatan spiritual.
Rasional : pendekatan spiritual dapat membantu penerimaan pasien terhadap kondisi yang dialami sehingga mengurangi rasa cemas

d.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan tentang proses/penyembuhan penyakit.
Tujuan :
Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Intervensi :
1.      Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang
Rasional : memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi.
2.      Diskusikan harapan pasien untuk kembali ke rumah, bekerja, dan aktivitas normal.
Rasional : pasien sering kali mengalami kesulitan memutuskan pulang. Masalah sering terjadi (contoh gangguan tidur, kesulitan melakukan aktivitas) yang mempengaruhi keberhasilan menilai tindakan hidup normal.
3.      Kaji ulang perawatan luka, graft kulit dan luka. Identifikasi sumber yang tepat untuk perawatan pasien rawat jalan.
Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri setelah pulang dan meningkatkan kemandirian.
4.      Dorong kesinambungan program latihan dan jadwalkan periode istirahat
Rasional : mempertahankan mobilitas, menurunkan komplikasi, dan mencegah kelelahan, membantu proses penyembuhan.

5.      EVALUASI
a.       Klien dapat mempertahankan rentang gerak
b.      Klien menunjukan luka sembuh
c.       Klien mengungkapkan perasaan lebih santai, Klien memperlihatkan tenang dan relaks
d.      Klien mengungkapkan pemahaman penyakit dan pengobatannya


DAFTAR PUSTAKA

(diakses pada tanggal 6 februari 2013)
(diakses pada tanggal 6februari 2013)
(diakses pada tanggal 6 februari 2013)
(diakses pada tanggal 7 februari 2013)
(diakses pada tanggal 7februari 2013)
W.A NewmanDorland.2010.Kamus Kedokteran Dorland.edisi 31.Jakarta:EGC
Nursing.2011.memahami berbagai macam penyakit.Cetakan 2.Jakarta Barat:PT Indeks

Template by : kendhin x-template.blogspot.com